EPS 3 TIDAK ADA PILIHAN LAGI

Tangho's Journalist
0

                                                                     

                                                                                  eps 3 tak ada pilihan lagi

   Pagi pun tiba. Seperti biasa, aku berjalan sendirian menuju sekolah. Saat aku mendatangi kamar Ragil untuk berangkat bersama, dia sepertinya sudah pergi duluan karena kamarnya kosong. Alhasil, aku terpaksa berangkat sendiri.

Pikiran tentang kejadian kemarin membuat kepalaku agak pusing. Namun, setidaknya aku lega karena Farinzo sudah dibantu oleh Olivia. Sepanjang jalan aku terus melamun, berharap hari ini akan menjadi hari yang baik-baik saja.

Karena terlalu asyik melamun dan tidak fokus ke jalan, aku tidak sengaja menabrak seseorang hingga kami berdua terjatuh. Ternyata, orang yang kutabrak adalah perempuan yang kemarin, Olivia!

"Eee... maaf, Via! Soalnya aku enggak fokus jalan tadi. Maaf ya," kataku sambil tersipu malu.

"Iya, enggak apa-apa kok," jawab Olivia ramah.

"Sini, biar aku bantu," ujarku sambil mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

"Hahaha, memangnya kamu lagi mikirin apa sih, sampai nabrak gue?" tanya Olivia sambil tertawa kecil.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. "Itu... aku lagi kepikiran soal hari ini, semoga semuanya baik-baik saja. Soalnya kemarin Farinzo kan kena masalah besar, jadi aku kepikiran terus sampai enggak fokus jalan."

"Hahaha, ya sudah deh, enggak apa-apa, gue maafin kok. Oh iya..." Olivia menggantung kalimatnya sejenak.

"Ngomong-ngomong, kamu sekolah di mana?" tanyaku penasaran.

"Kalau gue sih sekolah di SMA 1 Wibawa" jawabnya.

Mendengar jawabannya, aku langsung tersentak kaget. SMA 1 Wibawa adalah sekolah paling unggulan di kota ini. Sekolah itu terkenal sangat ketat dan hanya menerima murid-murid dengan nilai super tinggi. Aku benar-benar tidak menyangka kalau perempuan di hadapanku ini bisa masuk ke sekolah sekeren itu.

"Ndra? Ndra, kamu dengar enggak?" tanya Olivia, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iya! Maaf, gue bengong lagi," jawabku kikuk.

"Hadeh, kamu kok tiba-tiba bengong sih?" Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Maaf, habisnya aku kaget pas tahu kamu bisa masuk sekolah unggulan itu."

"Tapi, meskipun aku masuk sekolah unggulan, tetap saja ada hal yang aneh di sana," kata Olivia dengan nada yang tiba-tiba berubah serius.

"Maksudmu? Apa yang aneh?"

"Seperti yang kukatakan kemarin, sekolahku punya kumpulan orang-orang yang menyimpan dendam."

"Dendam?" dahiku mengernyit.

"Iya, dendam. Ceritanya, mereka adalah orang-orang yang pernah dikhianati, dikucilkan, atau dirundung (di-bully). Nah, orang-orang yang tersakiti ini bersatu membentuk sebuah kelompok. Mereka saling membantu untuk membalaskan dendam atau menyelesaikan masalah masing-masing," jelas Olivia panjang lebar.

"Oh... jadi 'Geng Dendam' itu yang mencelakai Rohma?" tanyaku memastikan.

"Iya, benar banget! Jadi kalau ada masalah yang terjadi tanpa alasan yang jelas, pelakunya pasti Geng Dendam," jawabnya tegas. "Makanya, kita harus berhati-hati dalam bertindak."

Olivia melanjutkan, "Intinya, kalau kamu membuat orang lain sengsara, kamu harus waspada. Di sana, kalau ada orang yang stres, itu bukan karena dirundung, tapi karena mereka jadi korban balas dendam. Kayak kakak perempuan gue sekarang, gara-gara masalah ini dia jadi sibuk terus."

Setelah lama mengobrol, Olivia berpamitan karena gerbang sekolahnya sudah terlihat di seberang jalan.

"Aku duluan ya. Dah!" serunya sambil melambaikan tangan.

"Dah!" balasku.

Aku pun melanjutkan perjalanan. Sebelas menit kemudian, aku tiba di sekolah. Aku masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa hingga bel pulang berbunyi.

Saat pulang, aku berjalan bersama Ragil. Di dekat area kantor sekolah, kami melihat Farinzo baru saja keluar dengan wajah lesu.

"Eh, Farinzo! Kamu habis ngapain dari kantor?" tanyaku menghampirinya.

"Gue habis dihukum," jawab Farinzo pasrah.

"Hah? Dihukum? Kamu habis ngapain?" aku terkejut.

"Aku habis menghajar siswa bernama Asraka. Dia yang merencanakan fitnah buat gue kemarin. Aku sudah coba menjelaskan ke guru-guru, tapi pihak sekolah enggak ada yang percaya. Jadinya gue dihukum. Bahkan mereka mengancam, kalau gue bikin keributan lagi di sekolah, gue bakal dikeluarkan," cerita Farinzo dengan nada frustrasi.

"Oh... yang sabar ya. Semoga masalahmu cepat selesai," kataku menyemangatinya.

"Iya, makasih ya, Yandra," jawab Farinzo.

Kami pun berpisah dengan Farinzo dan melanjutkan perjalanan pulang ke asrama. Setelah sampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di atas kasur.

Saat mulai memejamkan mata dan larut dalam pikiran yang dalam, aku tiba-tiba tersentak. Aku baru ingat kalau tasku masih dibawa oleh Ragil! Aku langsung bangkit untuk mengambilnya. Namun, tepat saat mendekati pintu, aku berpikir lagi, ‘Oh iya, besok kan libur. Ngapain gue ambil sekarang? Ya sudahlah, mending besok aja.’

Aku pun kembali ke kasur dan melanjutkan tidurku. Tepat saat aku hampir terlelap dan memasuki alam fantasi, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tok! Tok! Tok!

"Ndra, ini tasmu!"

Tentu, ini hasil suntingan ceritamu agar alurnya lebih rapi, dramatis, dan nyaman dibaca. Beberapa kata yang kurang pas (seperti "berduet" yang arti sebenarnya menyanyi bersama, diubah menjadi "berduel") dan salah ketik sudah diperbaiki.

Duel di Alun-Alun

Aku langsung terbangun dari tidur begitu mendengar ketukan di pintu kamar. Saat kubuka, ternyata Ragil yang berdiri di sana.

"Eh, Andra! Tidur melulu kamu. Ini sudah sore, lho. Kamu tahu nggak, kalau tidur sore-sore itu bisa bikin gila?" celetuk Ragil.

"Hah, iya, iya. Hasrat tidurku juga sudah hilang gara-gara kamu bangunin," jawabku dengan nada jengkel.

"Hahaha! Ini, tas kamu masih di aku," kata Ragil sambil menyodorkan tasku.

"Oh, ya sudah. Aku mau balik ke kamar lagi, ya," kataku sambil bersiap menutup pintu.

"Eits, tunggu dulu! Mending kita jalan-jalan, yuk!" tahan Ragil sambil memegangi daun pintu.

"Ah? Jalan-jalan ke mana?" tanyaku heran.

"Ke alun-alun, yuk!" ajak Ragil.

"Ya sudahlah," jawabku pasrah.

Akhirnya, aku tidak jadi melanjutkan tidur dan memilih pergi jalan-jalan bersama Ragil. Sepanjang jalan, kami sangat menikmati suasana sore. Meskipun aku merasa agak lelah, Ragil terus-menerus melontarkan lelucon yang membuat lelahku sirna. Dalam hati, aku berharap persahabatan kami bisa tetap dekat seperti ini selamanya.

Namun, di tengah keasyikan kami berjalan, pandangan kami tertuju pada sebuah keributan di taman. Ternyata, teman kami, Farinzo, sedang berduel habis-habisan melawan Asraka, murid kelas 10.7. Sejac awal, aku memang sudah curiga kalau Asrakalah dalang di balik fitnah yang menimpa Farinzo. Jadi, tidak heran kalau sekarang mereka sampai adu jotos. Aku memperhatikan Farinzo yang tampaknya sudah mulai kehabisan tenaga. Rasa kasihan pun muncul di hatiku melihat Farinzo yang hampir kalah.

"Gil, gimana nih? Kita bantu Farinzo, yuk?" bisikku panik.

"Apa? Bantu Farinzo? Orang yang sudah memukul teman kita? Rasanya aku nggak sudi, Ndra!" tolak Ragil.

"Plis, tolonglah, Gil! Farinzo itu sebenarnya difitnah sama Asraka, makanya mereka sampai berduel kayak gitu," mohonku.

"Hah... ya sudah, baiklah!" jawab Ragil sambil bersiap-siap.

Ragil pun maju dengan langkah kaki yang mantap tanpa gentar. Ia langsung melompat ke arah Asraka. Serangan mendadak itu sukses membuat Asraka terkejut dan terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Sialan! Kenapa kamu menghalangiku?!" bentak Asraka geram.

"Hei, hei, santai... Kamu lagi ngapain, hajar orang di sini?" tanya Ragil santai.

"Berisik! Ini bukan urusanmu! Ini urusanku sama dia!" jawab Asraka sengit.

"Hahaha! Dia temanku, berarti otomatis ini jadi urusanku juga," balas Ragil.

"Kurang ajar! Kalau begitu, sekalian saja kamu aku habisi!" teriak Asraka.

Asraka merangsek maju dengan tangan mengepal kuat. Namun, setiap kali dia mencoba menyerang, Ragil selalu berhasil menghindar dengan sangat mudah. Asraka sampai terengah-engah karena kelelahan mengejar pergerakan Ragil.

"Haaaa! Hei, kalau berani lawan, dong! Jangan cuma menghindar!" tantang Asraka kesal.

"Oke, kamu sendiri yang minta, ya," sahut Ragil.

Dengan kecepatan kilat, Ragil tiba-tiba sudah berada tepat di depan mata Asraka. Ia melayangkan sebuah tinjuan telak, menghempaskannya dengan penuh tenaga layaknya sebuah kebebasan dalam pertarungan. Asraka langsung terkapar di tanah. Ia mencoba untuk bangkit, tetapi Ragil langsung mengunci gerakannya dengan menginjak tubuhnya. Asraka pun berteriak kesakitan, "Aaaagh!"

"Mendingan sekarang kamu pergi dari sini sebelum makin kesakitan," ancam Ragil dingin.

Ragil akhirnya melepaskan injakannya, dan Asraka pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

"Ingat, Farinzo! Urusan kita belum selesai!" teriak Asraka sambil berlalu.

Akhirnya, duel sengit itu pun berhenti. Kami berhasil memisahkan Farinzo dari Asraka.

"Terima kasih banyak ya, Ndra, Gil," ucap Farinzo dengan napas tersengal.

"Iya, sama-sama," jawab kami berdua kompak.

Dia kembali mengangguk, merasa sangat tertolong karena kami datang di waktu yang tepat.

Keesokan harinya... Aku pun memulai hari di sekolah seperti biasa. Langkahku terasa gembira, persis seperti hari pertama aku menginjakkan kaki di sini. Hah, akhirnya, semoga masalah Farinzo benar-benar selesai.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku dan Ragil seperti biasa berjalan bersama untuk pulang. Tiba-tiba, aku melihat Farinzo keluar dari ruang kantor guru.

"Farinzo! Kamu habis ngapain lagi dari kantor?" tanyaku. "Aku habis minta surat keterangan pindah, Ndra," jawabnya datar. "Hah, pindah?! Kamu ngapain pindah?" tanyaku terkejut. "Aku sudah cukup sekolah di sini. Lagian, semua teman-teman sudah nggak ada yang percaya lagi sama gue. Mending gue pindah sekolah aja," jawab Farinzo. "Tapi, Zo, kamu kayak menyerah begitu aja. Plis, Zo, masa kamu pindah gitu aja?" bujukku. "Hah, mau gimana lagi? Tapi nggak apa-apa, aku udah nemu sahabat yang cocok untuk menemaniku selain Rohma," jawabnya dengan senyum tipis. "Hah? Siapa?" tanyaku penasaran. "Olivia. Dia yang bakal mendampingiku selama di SMA Wibawa 1," jawab Farinzo. "Hah... ya sudah, nggak apa-apa kok. Yang penting masalahmu di sini sudah selesai," ucapku, mencoba berlapang dada. "Iya, terima kasih ya, Ndra. Kamu satu-satunya teman yang masih percaya sama gue," ucapnya tulus. "Iya, sama-sama. Semoga kamu beruntung di sekolah baru ya," balasku. "Iya Ndra, terima kasih ya. Dah!" jawab Farinzo sambil tersenyum dan berbalik arah.

Dia pun pergi meninggalkan sekolah ini hanya karena tidak dipercayai lagi. Padahal dia tidak salah sama sekali. Tapi setidaknya, masalah dia di sini sudah selesai.

"Hah... padahal aku baru mengenalnya tiga tahun lalu pas di SMP, tapi dia sudah pergi saja," keluh Ragil. "Lah, aku malah baru kenal dia tiga hari yang lalu!" sahutku. "Hahaha!" Kami pun tertawa bersama, mencoba mengusir rasa sedih.

[Berpindah POV: Farinzo]

Hah, sudah waktunya aku memulai hidup di sekolah yang baru. Meski tempat ini penuh luka, bagaimanapun juga akan tetap menjadi kenangan untukku. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju gerbang. Saat langkah terakhirku melewati batas sekolah, dalam hati aku berbisik, Selamat tinggal, SMA Wijaya.

Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Jika aku melihat ke belakang, aku hanya akan melihat bayang-bayang masa burukku saja. Namun di tengah jalan, aku tak sengaja berpapasan dengan perempuan pengkhianat itu.

"Zo? Kamu... pindah sekolah?" tanya Rohma dengan suara lirih.

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku terus melangkah, menganggapnya tak lebih dari kerikil jalanan yang tak bisa berbicara. Saat aku melewatinya, tiba-tiba dia menarik lenganku.

"Zo, tolong jawab! Kenapa kamu pindah? Terus persahabatan kita gimana?!" tanya Rohma, matanya berkaca-kaca. "Hah? Sahabat? Sahabat macam apa yang nggak belain gue saat dituduh?!" balasku sengit. "Tapi aku nggak ikut nuduh kamu, Zo! Sumpah!" seru Rohma membela diri. "Apa? Nggak nuduh? Lalu saat aku bertanya kenapa, kenapa kamu malah diam dan nggak jawab? Sudah cukup, Roh! Gue males lihat cewek kayak lu lagi. Aku sudah punya penggantimu, jadi hubungan kita selesai sampai di sini!" jawabku ketus sambil mengempaskan tangannya yang terasa najis itu.

Aku pun meninggalkannya begitu saja. Dah, Rohma. Kita tak mungkin bisa bersahabat atau berteman lagi. Bye.

Keesokan Harinya...

"Eee... Zo, gimana? Masalahmu sudah selesai, kan?" tanya seseorang dari belakang. Itu Olivia. "Ya, Olivia. Tapi setelah masalah kemarin, aku malah menyimpan dendam," jawabku dingin. "Jadi, apa yang bisa kubantu, Zo?" tanya Olivia sambil menatapku intens. "Hahaha... Aku ingin Asraka dikeluarkan dari Geng Dendam, dan aku yang akan menjadi penggantinya!" jawabku dengan tawa sinis. "Lalu, apa alasan dendammu sampai ingin masuk ke Geng Dendam?" tanya Olivia penasaran. "Aku punya dendam kesumat pada semua murid SMA Wijaya. Aku ingin membuat mereka merasakan bagaimana perihnya hidup saat tidak dipercayai oleh siapa pun!" jawabku penuh amarah. "Baiklah, Farinzo... akan kukabulkan dendammu itu," jawab Olivia sambil tersenyum misterius.

BERSAMBUNG KE EPISODE 4 By: Setiyo Firmansyah (Santri Tangho)

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!