Senandung Alfiyah

Tangho's Journalist
0

 

Senandung Alfiyah

by : setiyo firmansyah[santri tangho]

Suara riuh rendah santri yang melantunkan nadhom (bait syair) Kitab Alfiyah Ibnu Malik menggema, bersahut-sahutan dengan angin pagi yang sejuk di halaman pesantren. Di salah satu undakan tangga masjid, Zaki duduk dengan dahi berkerut dalam. Tangannya memegang erat sebuah kitab kuning yang sudut-sudutnya mulai usang. Bibirnya komat-kamit, mencoba mengejar ritme hafalan yang kian memburu waktu.

"...Kalamuha lafzhun mufidun kastaqim, wasmun wa fi’lun tsumma harfunil kalim... Duh, habis ini apa ya?" bisik Zaki panik, jarinya mengetuk-ngetuk sampul kitab.

Plak!

Sebuah sarung melayang dan mendarat tepat di atas peci hitam Zaki. Zaki terlonjak kaget, langsung menoleh dengan tatapan tajam. Di sana berdiri Fikri, sahabat karibnya, berjalan santai sambil mengunyah kerupuk kaleng dengan sarung yang hanya dikalungkan asal-asalan di leher.

"Wa wahiduhu kalimatun wal qoulu ‘am, wa kalimatun biha kalamun qod yu’an! Serius amat, Jak. Muka kamu udah mirip kertas ujian kena kuah soto, kusut banget," seloroh Fikri tanpa dosa, lalu duduk di sebelah Zaki.

"Fik! Jangan bercanda deh. Besok itu Imtihan (ujian) lisan sama Ustadz Mansur. Kalau kita nggak lancar setoran seratus bait Alfiyah, bisa-bisa dihukum jemur di deket kandang kambing!" keluh Zaki, merapikan pecinya yang miring.

Fikri hanya tertawa renyah. "Ya elah, bawa santai. Hidup di pondok itu dinikmati, Jak. Lagian, menghafal itu pakai hati, bukan pakai urat leher. Nih, mau kerupuk?"

Zaki melambaikan tangan, menolak. "Kamu bisa santai karena otakmu encer. Lah aku? Dari semalam mentok di bait ke-50 terus." Dengan gusar, Zaki berdiri, menenteng kitabnya, dan berjalan pergi mencari tempat sepi yang jauh dari gangguan sahabatnya yang kelewat santai itu.

Kesalahpahaman di Kamar Santri

Sore harinya, ketegangan Zaki mencapai puncaknya. Di dalam kamar santri yang padat—penuh dengan tumpukan kasur lipat dan lemari kayu berstiker kaligrafi—Zaki mengacak-acak isi lemarinya. Keringat dingin mulai menetes.

"Mana ya? Perasaan kemarin ditaruh di sini," gumam Zaki, makin panik. Buku catatan ringkasan rumus nahwu-shorof miliknya hilang. Buku kecil berwarna cokelat itu adalah "nyawa" hafalannya selama setahun terakhir.

Pintu kamar terbuka. Fikri masuk dengan handuk tersampir di pundak, baru selesai mandi. Melihat Zaki yang frustrasi, Fikri bertanya, "Nyari apa sih, Jak? Kayak macan kehilangan anak."

"Buku catatan ringkasanku, Fik! Yang warna cokelat. Kalau nggak ada itu, aku bisa nge-blank pas ujian besok!"

Fikri tiba-tiba terdiam. Ekspresi wajahnya berubah agak kikuk, namun dengan cepat ia memalingkan wajah. "Uh... mungkin keselip di perpus, atau di kelas kali?"

Zaki tidak mendengarkan. Matanya mendadak tertuju pada meja kecil milik Fikri. Di bawah bantal Fikri, menyembul ujung buku berwarna cokelat yang sangat ia kenali. Zaki melangkah cepat, menarik buku itu, dan memandang Fikri dengan tatapan tak percaya.

"Fik... kamu ghoshob (pinjam tanpa izin) buku aku?" suara Zaki bergetar, menahan kecewa.

"Eh, itu... Jak, aku bisa jelasin. Aku cuma..."

"Kamu tahu kan aku butuh banget buku ini?!" potong Zaki dengan nada meninggi. "Kamu sendiri malas menghafal, tapi kenapa malah nyusahin orang lain? Kalau mau gagal, gagal aja sendiri, Fik! Jangan seret aku!"

Brak!

Zaki menyambar kitabnya dan membanting pintu kamar, meninggalkan Fikri yang terpaku lesu, menatap lantai dengan rasa bersalah yang mendalam.

Rahasia di Sepertiga Malam

Pukul dua dini hari, suasana pesantren senyap dan dingin. Zaki terbangun karena hatinya diselimuti gelisah. Ia memutuskan pergi ke masjid untuk salat tahajud, berharap ketenangan bisa mengembalikan fokus hafalannya.

Namun, langkah kaki Zaki terhenti di ambang pintu masjid. Di bawah temaram lampu pojok ruangan, terdengar suara isakan tangis yang lirih, berbaur dengan lantunan bait Alfiyah yang terbata-bata. Zaki mengintip dari balik tiang besar.

Itu Fikri. Sahabatnya yang selalu terlihat acuh tak acuh itu kini sedang bersujud lama, lalu duduk sambil memegang lembaran kertas. Di dekatnya, ada buku cokelat milik Zaki. Fikri rupanya sedang menyalin isi buku itu kata demi kata ke kertas lain agar tidak mengganggu Zaki terlalu lama.

Wajah Fikri sembab oleh air mata. Matanya merah, menahan kantuk yang luar biasa karena tidak tidur berhari-hari.

"Ya Allah..." bisik Fikri di sela tangisnya. "Ampuni hamba yang bebal ini. Hamba cuma pengen membahagiakan orang tua hamba... Hamba pinjam buku Zaki karena hamba bodoh, hamba lambat menghafal... Jangan hukum hamba karena sudah membuat sahabat hamba marah..."

Zaki tertegun. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Air matanya ikut menetes. Ternyata, di balik topeng santai dan tawa Fikri selama ini, sahabatnya itu berjuang mati-matian di sepertiga malam demi impian yang sama.

Alunan yang Selaras

Pagi harinya, atmosfer ruang kantor Ustadz Mansur terasa begitu tegang. Ustadz Mansur, dengan kacamata kotaknya, menatap tajam namun teduh ke arah Zaki dan Fikri yang duduk bersila di atas karpet hijau.

"Zaki, Fikri. Hari ini penentuan. Apakah hafalan kalian layak untuk lanjut ke kitab berikutnya atau harus mengulang. Sudah siap?"

"Siap, Ustadz," jawab keduanya serempak, meski jantung mereka berdegup kencang.

Ustadz Mansur memulai, "Kita mulai dari kamu, Fikri. Lanjutkan bait ini: Kalamuha lafzhun mufidun kastaqim..."

Fikri menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar di atas lutut. Ia melirik Zaki. Di luar dugaan, Zaki tidak lagi menatapnya dengan amarah, melainkan memberikan anggukan mantap dan senyuman penyemangat yang tulus.

Fikri memejamkan mata, lalu melantunkan bait lanjutan dengan suara yang tegas, lancar, dan tanpa ragu sedikit pun. Ustadz Mansur tersenyum puas dan mengangguk.

"Bagus. Sekarang, bagian terakhir. Zaki dan Fikri, bacakan bersamaan secara bergantian (lalaran) dari bait ke-75 sampai 85. Mulai!"

Di ruangan itu, sebuah harmoni tercipta. Zaki dan Fikri menyanyikan bait-bait Alfiyah secara bergantian. Suara mereka saling bersahut-sahutan, saling melengkapi ketika salah satu dari mereka agak ragu meniti harakat. Mereka terdengar seperti dua orang yang telah berjuang bersama dalam waktu yang lama.

Akhir yang Hangat

Matahari bersinar cerah di teras masjid setelah ujian usai. Zaki dan Fikri keluar dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Mereka dinyatakan lulus dengan nilai Jayyid Jiddan (Sangat Baik).

Sambil memakai sandal di selasar, Zaki menepuk bahu Fikri. "Fik."

"Yo?"

"Maafin aku soal kemarin sore, ya. Aku udah suuzan sama kamu. Aku nggak tahu kalau kamu bela-belain begadang tiap malam..."

Fikri langsung merangkul pundak Zaki sambil tertawa keras, memotong kalimat melankolis sahabatnya itu. "Ah, udahlah! Santri kok melow amat kayak sinetron. Harusnya aku yang minta maaf karena pinjam buku nggak bilang-bilang. Tapi keren kan, gara-gara buku kamu, kita berdua lulus!"

Zaki tersenyum lega. "Iya sih. Tapi besok-besok kalau mau pinjam, bilang ya. Jangan bikin jantungan."

"Siap, Bos!" Fikri memberi hormat dengan jenaka. "Eh, tapi ngomong-ngomong soal pinjam..." Fikri melirik ke bawah. "Sandal kamu bagus juga nih, izin aku ghoshob ke kantin ya!"

Sebelum Zaki sempat merespons, Fikri sudah berlari kencang membelah halaman pondok, memakai sandal Zaki yang tertukar sebelah.

"FIKRI!!! Kebiasaan! Balikin nggak?!" teriak Zaki, yang akhirnya ikut berlari mengejar sahabatnya sambil tertawa lepas.

Di antara riuhnya angin pesantren, persahabatan mereka mengalun indah, selaras dengan bait-bait suci yang mereka perjuangkan bersama.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!