Senandung Alfiyah
Suara riuh rendah santri yang melantunkan nadhom
(bait syair) Kitab Alfiyah Ibnu Malik menggema, bersahut-sahutan dengan angin
pagi yang sejuk di halaman pesantren. Di salah satu undakan tangga masjid, Zaki
duduk dengan dahi berkerut dalam. Tangannya memegang erat sebuah kitab kuning
yang sudut-sudutnya mulai usang. Bibirnya komat-kamit, mencoba mengejar ritme
hafalan yang kian memburu waktu.
"...Kalamuha lafzhun mufidun kastaqim, wasmun wa
fi’lun tsumma harfunil kalim... Duh, habis ini apa ya?" bisik Zaki
panik, jarinya mengetuk-ngetuk sampul kitab.
Plak!
Sebuah sarung melayang dan mendarat tepat di atas peci hitam
Zaki. Zaki terlonjak kaget, langsung menoleh dengan tatapan tajam. Di sana
berdiri Fikri, sahabat karibnya, berjalan santai sambil mengunyah kerupuk
kaleng dengan sarung yang hanya dikalungkan asal-asalan di leher.
"Wa wahiduhu kalimatun wal qoulu ‘am, wa kalimatun
biha kalamun qod yu’an! Serius amat, Jak. Muka kamu udah mirip kertas ujian
kena kuah soto, kusut banget," seloroh Fikri tanpa dosa, lalu duduk di
sebelah Zaki.
"Fik! Jangan bercanda deh. Besok itu Imtihan
(ujian) lisan sama Ustadz Mansur. Kalau kita nggak lancar setoran seratus bait
Alfiyah, bisa-bisa dihukum jemur di deket kandang kambing!" keluh Zaki,
merapikan pecinya yang miring.
Fikri hanya tertawa renyah. "Ya elah, bawa santai.
Hidup di pondok itu dinikmati, Jak. Lagian, menghafal itu pakai hati, bukan
pakai urat leher. Nih, mau kerupuk?"
Zaki melambaikan tangan, menolak. "Kamu bisa santai
karena otakmu encer. Lah aku? Dari semalam mentok di bait ke-50 terus."
Dengan gusar, Zaki berdiri, menenteng kitabnya, dan berjalan pergi mencari
tempat sepi yang jauh dari gangguan sahabatnya yang kelewat santai itu.
Kesalahpahaman di Kamar Santri
Sore harinya, ketegangan Zaki mencapai puncaknya. Di dalam
kamar santri yang padat—penuh dengan tumpukan kasur lipat dan lemari kayu
berstiker kaligrafi—Zaki mengacak-acak isi lemarinya. Keringat dingin mulai
menetes.
"Mana ya? Perasaan kemarin ditaruh di sini," gumam
Zaki, makin panik. Buku catatan ringkasan rumus nahwu-shorof miliknya
hilang. Buku kecil berwarna cokelat itu adalah "nyawa" hafalannya
selama setahun terakhir.
Pintu kamar terbuka. Fikri masuk dengan handuk tersampir di
pundak, baru selesai mandi. Melihat Zaki yang frustrasi, Fikri bertanya,
"Nyari apa sih, Jak? Kayak macan kehilangan anak."
"Buku catatan ringkasanku, Fik! Yang warna cokelat.
Kalau nggak ada itu, aku bisa nge-blank pas ujian besok!"
Fikri tiba-tiba terdiam. Ekspresi wajahnya berubah agak
kikuk, namun dengan cepat ia memalingkan wajah. "Uh... mungkin keselip di
perpus, atau di kelas kali?"
Zaki tidak mendengarkan. Matanya mendadak tertuju pada meja
kecil milik Fikri. Di bawah bantal Fikri, menyembul ujung buku berwarna cokelat
yang sangat ia kenali. Zaki melangkah cepat, menarik buku itu, dan memandang
Fikri dengan tatapan tak percaya.
"Fik... kamu ghoshob (pinjam tanpa izin) buku
aku?" suara Zaki bergetar, menahan kecewa.
"Eh, itu... Jak, aku bisa jelasin. Aku cuma..."
"Kamu tahu kan aku butuh banget buku ini?!" potong
Zaki dengan nada meninggi. "Kamu sendiri malas menghafal, tapi kenapa
malah nyusahin orang lain? Kalau mau gagal, gagal aja sendiri, Fik! Jangan
seret aku!"
Brak!
Zaki menyambar kitabnya dan membanting pintu kamar,
meninggalkan Fikri yang terpaku lesu, menatap lantai dengan rasa bersalah yang
mendalam.
Rahasia di Sepertiga Malam
Pukul dua dini hari, suasana pesantren senyap dan dingin.
Zaki terbangun karena hatinya diselimuti gelisah. Ia memutuskan pergi ke masjid
untuk salat tahajud, berharap ketenangan bisa mengembalikan fokus hafalannya.
Namun, langkah kaki Zaki terhenti di ambang pintu masjid. Di
bawah temaram lampu pojok ruangan, terdengar suara isakan tangis yang lirih,
berbaur dengan lantunan bait Alfiyah yang terbata-bata. Zaki mengintip dari
balik tiang besar.
Itu Fikri. Sahabatnya yang selalu terlihat acuh tak acuh itu
kini sedang bersujud lama, lalu duduk sambil memegang lembaran kertas. Di
dekatnya, ada buku cokelat milik Zaki. Fikri rupanya sedang menyalin isi buku
itu kata demi kata ke kertas lain agar tidak mengganggu Zaki terlalu lama.
Wajah Fikri sembab oleh air mata. Matanya merah, menahan
kantuk yang luar biasa karena tidak tidur berhari-hari.
"Ya Allah..." bisik Fikri di sela tangisnya.
"Ampuni hamba yang bebal ini. Hamba cuma pengen membahagiakan orang tua
hamba... Hamba pinjam buku Zaki karena hamba bodoh, hamba lambat menghafal...
Jangan hukum hamba karena sudah membuat sahabat hamba marah..."
Zaki tertegun. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang
teramat sangat. Air matanya ikut menetes. Ternyata, di balik topeng santai dan
tawa Fikri selama ini, sahabatnya itu berjuang mati-matian di sepertiga malam
demi impian yang sama.
Alunan yang Selaras
Pagi harinya, atmosfer ruang kantor Ustadz Mansur terasa
begitu tegang. Ustadz Mansur, dengan kacamata kotaknya, menatap tajam namun
teduh ke arah Zaki dan Fikri yang duduk bersila di atas karpet hijau.
"Zaki, Fikri. Hari ini penentuan. Apakah hafalan kalian
layak untuk lanjut ke kitab berikutnya atau harus mengulang. Sudah siap?"
"Siap, Ustadz," jawab keduanya serempak, meski
jantung mereka berdegup kencang.
Ustadz Mansur memulai, "Kita mulai dari kamu, Fikri.
Lanjutkan bait ini: Kalamuha lafzhun mufidun kastaqim..."
Fikri menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar di atas
lutut. Ia melirik Zaki. Di luar dugaan, Zaki tidak lagi menatapnya dengan
amarah, melainkan memberikan anggukan mantap dan senyuman penyemangat yang
tulus.
Fikri memejamkan mata, lalu melantunkan bait lanjutan dengan
suara yang tegas, lancar, dan tanpa ragu sedikit pun. Ustadz Mansur tersenyum
puas dan mengangguk.
"Bagus. Sekarang, bagian terakhir. Zaki dan Fikri,
bacakan bersamaan secara bergantian (lalaran) dari bait ke-75 sampai 85.
Mulai!"
Di ruangan itu, sebuah harmoni tercipta. Zaki dan Fikri
menyanyikan bait-bait Alfiyah secara bergantian. Suara mereka saling
bersahut-sahutan, saling melengkapi ketika salah satu dari mereka agak ragu
meniti harakat. Mereka terdengar seperti dua orang yang telah berjuang bersama
dalam waktu yang lama.
Akhir yang Hangat
Matahari bersinar cerah di teras masjid setelah ujian usai.
Zaki dan Fikri keluar dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Mereka
dinyatakan lulus dengan nilai Jayyid Jiddan (Sangat Baik).
Sambil memakai sandal di selasar, Zaki menepuk bahu Fikri.
"Fik."
"Yo?"
"Maafin aku soal kemarin sore, ya. Aku udah suuzan
sama kamu. Aku nggak tahu kalau kamu bela-belain begadang tiap malam..."
Fikri langsung merangkul pundak Zaki sambil tertawa keras,
memotong kalimat melankolis sahabatnya itu. "Ah, udahlah! Santri kok melow
amat kayak sinetron. Harusnya aku yang minta maaf karena pinjam buku nggak
bilang-bilang. Tapi keren kan, gara-gara buku kamu, kita berdua lulus!"
Zaki tersenyum lega. "Iya sih. Tapi besok-besok kalau
mau pinjam, bilang ya. Jangan bikin jantungan."
"Siap, Bos!" Fikri memberi hormat dengan jenaka.
"Eh, tapi ngomong-ngomong soal pinjam..." Fikri melirik ke bawah.
"Sandal kamu bagus juga nih, izin aku ghoshob ke kantin ya!"
Sebelum Zaki sempat merespons, Fikri sudah berlari kencang
membelah halaman pondok, memakai sandal Zaki yang tertukar sebelah.
"FIKRI!!! Kebiasaan! Balikin nggak?!"
teriak Zaki, yang akhirnya ikut berlari mengejar sahabatnya sambil tertawa
lepas.
Di antara riuhnya angin pesantren, persahabatan mereka
mengalun indah, selaras dengan bait-bait suci yang mereka perjuangkan bersama.
.png)