Musuh datang lebih banyak. Sepertinya kali ini bukan dari SMA 1, melainkan sebuah geng. Tetapi, apa yang mereka inginkan? Jika melawan mereka tanpa alat, mungkin akan lumayan susah. Apalagi jumlah mereka terlalu banyak, kira-kira ada 20 orang lebih.
"Arka, jika kita maksa tanpa alat, kita mungkin akan mati di sini," tegur Rahmat.
"Ya nggak apa-apalah, mari kita gelut sampai titik darah penghabisan!" seru Rina.
"Mending kita mundur untuk sekarang. Pakai jalan memutar, kita cari aman dulu," jawabku.
"Yah, nggak jadi lanjut deh," keluh Rina.
Kami bertiga pun kembali ke motor masing-masing dan pergi dari tempat itu secepat mungkin. Dan yah, hal yang tidak kuinginkan pun terjadi. Kami dikejar-kejar oleh mereka. Aku bahkan harus dibantu oleh Rahmat yang mendorong dari belakang, karena motor Beat-ku seharusnya kalah cepat dengan motor mereka. Tapi berkat Rahmat, aku masih bisa berada di depan.
Akhirnya kami bertiga memilih untuk berpencar. Aku pergi ke arah jalan yang gelap dan rimbun oleh pepohonan, lalu mulai bersembunyi. Saat bersembunyi, aku baru sadar kalau mereka semua sepertinya mengejar ke arahku. Apa yang mereka inginkan dariku? Apakah mereka dibayar untuk memburuku? Atau mereka malah bekerja sama? Hah, yang penting sekarang aku harus bersembunyi sampai dirasa aman.
Jam menunjukan pukul 01:30, akhirnya mereka sudah benar-benar pergi dari sini. Aku pun menelepon Rahmat dan Rina. Rahmat rupanya sudah di rumah, sementara panggilan Rina tidak dijawab—paling dia sudah sampai dan tertidur. Aku pun keluar dari tempat persembunyian, pulang ke rumah, dan langsung tidur.
Aku terbangun pada pukul 08:00, tetapi kelopak mataku masih berat karena tidur kemalaman. Aku ingin memanjakan mataku untuk tidur lagi, tetapi apakah aku harus melewatkan rutinitas mingguanku? Walaupun sudah agak terlambat, mataku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Baiklah, mari memejamkan mata sejenak dan mengembalikan seluruh staminaku.
Aku kembali membuka mata saat tangan kananku meraih HP. Layar atas menunjukkan pukul 13:00. Terlihat banyak notifikasi dari Rahmat dan Rina yang menanyakan keadaanku. Jika aku baik-baik saja, mereka akan datang ke rumahku, begitu isi pesannya. Akhirnya kuketik balasan ke nomor mereka masing-masing bahwa aku tidak apa-apa. Baru saja selesai mengetik, terdengar suara dering bel. Aku pun melangkah keluar dari kamar menuju pintu depan. Kugenggam gagang pintu dengan tangan kanan dan kubuka dengan sedikit cepat, mengira mereka yang sudah menunggu lama. Tetapi bukan itulah kenyataannya. Tubuhku refleks bersiaga menatap orang yang berada di depanku. Kenapa dia bisa tahu di mana rumahku?
"Halo, Ka. Lama tak jumpa, kangen kah sama aku?" sapa orang itu.
"Sony? Kenapa kau bisa tahu rumahku? Kau tidak berniat melawanku, kan?" sahutku curiga.
"Siapa yang mau melawanmu? Siapa yang bisa mengalahkanku, mengalahkan sekolahku, dan bahkan sampai membuat perjanjian dengan sekolahku?" ucapnya dengan nada memuji.
"Lha, terus Reza gimana?"
"Oh, Reza. Gue juga mau ngomongin tentang Reza ke lu."
"Ngomongin tentang apa emangnya?"
"Intinya lu harus hati-hati sama dia."
"Kalau ngomongin itu mah lu udah telat."
"Telat gimana?" tanyanya dengan nada bingung.
"Gue udah diserang tadi malam oleh Reza dan gerombolan pemotornya," jawabku dengan nada tegas.
"Iya kah?" tanyanya penasaran.
"Ya iyalah!"
"Kali ini lu harus ekstra hati-hati, karena Reza hanya ngincar lu. Bukan Rahmat, bukan Rina, bukan Agus, bukan yang lain."
"Lah, kenapa harus gue?"
"Kalau itu gue gak tahu. Dia bilang kepadaku kalau dia bakal ngelakuin semua cara untuk mengakhirimu. Karena jika tidak ada kau, mengalahkan yang lain hanya tinggal menunggu waktu. Bahkan gerombolan pemotor yang kau maksud bukan dari SMP 1, tapi dari sebuah geng yang gue sendiri gak tahu geng apa."
"WOY, SONY!!! NGAPAIN LU DI SINI?!! NYARI MATI KAH!!" teriak Rina tiba-tiba.
"Santai, Rin, gak usah ngegas. Kita tidak tahu alasan dia di sini," Rahmat menenangkan.
"Oh, itu teman-teman lu udah sampai di sini. Gue pulang dulu ya, bye," ucap Sony sambil melangkah keluar dari halaman rumah. "Dan hati-hati, aku dengar nanti malam mereka akan menyerangmu."
"Lu mau ngapain di sini? Nyari mati? Tinggal shareloc kalo mau berantem!!" Rina masih emosi.
Sony menyalakan motornya. "Kalo sama lu mah gue gak nafsu. Nyerang kok pakai panci, mending masak saja di dapur!" ejeknya, lalu pergi menjauh.
"Ka, dia ngapain ke sini? Ada urusan kah?" tanya Rahmat sambil mendekat ke arahku.
"Oh, dia hanya memperingatiku tentang Reza."
"Dia gak ngapa-ngapain lu, kan?" tanya Rina.
"Gak, Rin, dia gak ngapa-ngapain gue, santai aja. Mending kita masuk ke rumah sekarang," jawabku.
Akhirnya kami masuk ke dalam rumah dan mulai mendiskusikan tentang Reza dan gengnya. Dengan informasi dari Sony, kami tahu bahwa Reza hanya mengincarku untuk saat ini. Kami membahas masalah itu diselingi canda tawa hingga jam 6 sore, lalu Rina dan Rahmat pulang ke rumah masing-masing.
Malam harinya, sekitar pukul 01:00, aku sudah tertidur lelap di kasurku yang empuk. Namun, aku mendengar suara ribut di depan rumah yang membuatku terbangun. Kubuka sedikit gorden untuk mengintip. Eh, bukannya itu Reza, ya? Bentar... REZA?! Mati dah gue kali ini, di depan ramai sekali! Apakah gue harus melawan? Masalahnya gue baru bangun tidur dan belum sepenuhnya sadar. Tapi aku tetap harus melawan mereka. Kupakai dulu pelindung lengan dan sarung tangan taktisku. Baiklah, kulihat total kira-kira ada 15 orang termasuk Reza. Semuanya membawa senjata tajam berupa celurit dan parang. Khusus untuk Reza, dia juga membawa pisau di sakunya walau sudah memegang parang. Baiklah, mungkin ini akan mudah.
Kubuka kunci rumah dengan penuh kehati-hatian, lalu melangkah keluar dengan jantung berdetak kencang. Kupersiapkan seluruh tenagaku. Dan ya, tanpa basa-basi, mereka semua langsung mengitari dan menyerangku, kecuali Reza.
Tujuh celurit dan tujuh parang mulai menebas ke arah tubuhku. Tapi, menghindari hal seperti ini mah sudah biasa. Aku tinggal melompat; semua celurit dan parang tertangkis dan terkumpul di satu titik. Saat mendarat, kuinjak senjata-senjata itu dengan sepenuh tenaga hingga terlepas dari genggaman mereka. Langsung saja kusleding kaki mereka, membuat lima orang tumbang seketika.
Aku melesat mencari celah terbuka. Dua orang datang dengan pukulan. Kupegang tangan mereka, lalu kuputar sampai mereka terbanting. Tiba-tiba, satu parang meluncur ke arah leherku. Kutangkis dengan cepat, kurebut parang itu, lalu kuserang balik menggunakan gagangnya tepat ke lehernya. Kubuang parang tersebut. Tiga sabetan celurit datang menyusul; aku menghindar cepat ke punggung salah satu dari mereka, kuangkat tubuhnya, lalu kulemparkan ke arah dua orang lainnya.
Tinggal tiga orang, masing-masing membawa dua parang. Kuambil satu parang dari tanah untuk melawan mereka. Mereka melesat serentak menebas ke arahku. Kutangkis semua serangan itu dan kudorong mereka sampai terpental. Kutendang salah satu dari mereka sampai tersungkur.
Satu orang maju menebas dari dua arah. Aku mundur sejenak, lalu melompat ke arahnya sambil menendangkan kaki tepat ke kepalanya. Satu orang lagi menyerang dari belakang. Kulempar parangku ke arahnya; dia menghindar, tapi hal itu memberiku waktu untuk melesat ke belakangnya. Kupegang bagian belakang kepalanya, lalu kubanting sekeras mungkin ke tanah.
Baiklah, musuh tinggal satu: Reza.
Aku melangkah mendekat dan memasang kuda-kudaku. Reza juga membalas dengan posisi pasangnya. Dia kelihatan jauh lebih serius daripada sebelumnya. Mari kita mulai rematch kita.
Bersambung.....
.png)