Santri Siap bermasyarakat dengan Praktek Fiqih tentang Wudhu,Sholat,dan Mengurus Jenazah

Tangho's Journalist
0
            

    Acara H-2: Praktik dan Pendalaman Materi Seputar Wudhu

    Liburan biasanya diisi dengan kegiatan bersantai. Namun, bagaimana jika kita bersantai sambil belajar? Itulah inti dari kegiatan EFS. Mengusung education (pendidikan) sebagai tema hari pertamanya pada Selasa, 5 Mei 2026, acara langsung dilanjutkan setelah sesi pembukaan selesai. Tepat pada pukul 09.00 WIB, peserta mengikuti sesi praktik dan pendalaman materi tentang wudhu yang dibawakan oleh Bapak Walidun, S.Pd.I.

                                                                                  Bapak Walidun sedang menjelaskan 

    Secara bahasa, wudu berarti bersuci menggunakan air. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah proses membasuh bagian-bagian tubuh tertentu menggunakan air. Berikut adalah tata cara dan langkah-langkah pelaksanaannya:

  1. Membasuh telapak tangan.

  2. Berkumur.

  3. Menghirup air ke hidung (istinsyaq).

  4. Membasuh wajah disertai dengan niat.

  5. Membasuh kedua tangan sampai siku.

  6. Mengusap sebagian kepala.

  7. Mengusap kedua telinga.

  8. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

  9. Tertib (berurutan).

    Adapun yang menjadi rukun (fardu) dalam wudhu meliputi: niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki sampai mata kaki, dan tertib.

    Sementara itu, untuk kesunahannya—selain langkah-langkah yang tidak termasuk dalam fardu di atas—antara lain adalah taslits (membasuh sebanyak tiga kali), mendahulukan bagian tubuh yang kanan daripada yang kiri, serta membaca doa setelah selesai wudhu.

    

    Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

    Terdapat 5 (lima) hal yang dapat membatalkan wudhu, yaitu:

  1. Keluarnya sesuatu dari qubul (kemaluan depan) atau dubur.

  2. Tidur dalam keadaan tidak tertutup (pantat tidak menetap pada tempat duduk).

  3. Hilang akal (karena mabuk, pingsan, atau gila).

  4. Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram.

  5. Menyentuh qubul dan dubur secara langsung.

    Selain itu, tubuh juga harus senantiasa bersih dari hal-hal yang dapat menghalangi air wudhu menyerap ke kulit, seperti tinta pulpen, cat, dan sebagainya.


    Acara H-3: Praktik dan Pendalaman Materi Seputar Sholat

    Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan pendalaman materi seputar sholat yang dibawakan oleh Bapak Imam Saputra, S.Pd., pada hari Rabu, 5 Mei 2026. Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB, dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah dan doa Sa'altu. Setelah itu, peserta diajak menonton video renungan mengenai penyesalan orang-orang yang meninggalkan sholat semasa hidupnya.    

                                                                          Bapak Imam sedang memberikan pertanyaan

    Secara bahasa, sholat berarti doa. Sedangkan secara istilah (menurut Imam Ar-Rafi'i), sholat adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, beserta syarat-syarat tertentu.

    Sholat Fardhu dan Batas Waktunya:

  • Subuh: Mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari.

  • Zuhur: Mulai dari tergelincirnya matahari ke arah barat hingga bayangan suatu benda sama panjang dengan benda tersebut.

  • Asar: Mulai dari saat bayangan benda sedikit lebih panjang dari bendanya hingga terbenamnya matahari.

  • Magrib: Mulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnya awan (mega) merah di ufuk barat.

  • Isya: Mulai dari hilangnya mega merah hingga terbitnya fajar shadiq.

    Syarat Wajib dan Syarat Sah Sholat:

  • Syarat Wajib: Islam, balig, berakal sehat, dan suci dari haid serta nifas (bagi perempuan).

  • Syarat Sah: Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis; menutup aurat; telah masuk waktu sholat; serta menghadap kiblat.

    Rukun Sholat (13 Rukun): Rukun sholat adalah perbuatan atau bacaan wajib yang harus dilakukan saat sholat, meliputi: (1) Niat, (2) Berdiri bagi yang mampu, (3) Takbiratul ihram, (4) Membaca Al-Fatihah, (5) Rukuk dengan tuma'ninah, (6) Iktidal dengan tuma'ninah, (7) Sujud dua kali dengan tuma'ninah, (8) Duduk di antara dua sujud dengan tuma'ninah, (9) Duduk tasyahud akhir (tawaruk), (10) Membaca tasyahud akhir, (11) Membaca sholawat nabi, (12) Mengucapkan salam pertama, dan (13) Tertib (berurutan).


       Acara H-4: Praktik dan Pendalaman Materi Seputar Pengurusan Jenazah

    Pada hari Kamis, 6 Mei 2026, acara dilanjutkan dengan materi pengurusan jenazah yang dibawakan oleh Bapak Naseh Nasrullah, S.Pd., M.Pd. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka dengan pembacaan doa Sa'altu.

                                                                                    Bapak Naseh menjelaskan praktek

    Secara umum, kewajiban mengurus jenazah terbagi menjadi 4 (empat), yaitu: memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan.

    Syarat Jenazah yang Dimandikan:

  • Beragama Islam (bukan non-muslim).

  • Ada bagian tubuhnya (meskipun hanya sebagian).

  • Bukan korban mati syahid dalam medan peperangan.

  Ketentuan Orang yang Berhak Memandikan Jenazah:

  • Jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya.

  • Pengecualian diberikan kepada pasangan suami-istri atau mahramnya.

  • Lebih diutamakan anggota keluarga terdekat.

  • Orang yang memandikan harus memiliki sifat amanah (jika jenazah memiliki cacat tubuh, dilarang keras menceritakannya kepada orang lain).

  • Apabila tidak ditemukan orang yang sejenis atau mahramnya, maka jenazah cukup ditayamumkan.

    Tata Cara Memandikan Jenazah:

  1. Letakkan jenazah pada tempat yang tinggi dan tertutup.

  2. Gunakan kain basah (kain basahan) untuk menutupi aurat jenazah.

  3. Berdoa dan membaca basmalah sebelum mulai memandikan.

  4. Niat memandikan jenazah (hukumnya sunah/boleh tanpa niat khusus).

  5. Basuhlah anggota wudhu jenazah terlebih dahulu.

  6. Dahulukan membasuh anggota tubuh bagian kanan, kemudian bagian kiri.

  7. Ratakan air suci dan menyucikan ke seluruh tubuh, minimal satu kali. Disunahkan 3 kali basuhan atau lebih dalam jumlah ganjil jika diperlukan.

  8. Urutan Siraman:

    • Siraman pertama: Menggunakan air yang dicampur sabun atau daun bidara.

    • Siraman kedua: Menggunakan air bersih biasa.

    • Siraman ketiga: Menggunakan air yang dicampur kapur barus.

1. Ketentuan Mengafani Jenazah

Kewajiban mengurus jenazah hukumnya adalah Fardu Kifayah. Dalam proses mengafani jenazah, terdapat beberapa ketentuan yang harus diperhatikan:

  • Kain Kafan: Disunahkan menggunakan kain yang bersih dan berwarna putih, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.

  • Jumlah Lapis:

    • Laki-laki: Minimal 1 lapis kain, dan disunahkan maksimal 3 lapis kain.

    • Perempuan: Disunahkan menggunakan 5 lapis kain (terdiri dari kain pembungkus, baju kurung, kerudung, dan sarung).

  • Tali Pengikat: Berjumlah ganjil (misalnya 3, 5, atau 7 tali). Ikatan harus menggunakan simpul hidup dan diposisikan di sebelah kiri tubuh agar mudah dilepaskan saat di liang lahat.

  • Kondisi Khusus (Ihram): Apabila jenazah meninggal saat sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah (dalam keadaan ihram), maka jenazah tidak boleh diberi wewangian dan bagian kepalanya tidak boleh ditutup.

2. Ketentuan dan Rukun Sholat Jenazah

Syarat Sah Sholat Jenazah: Sama seperti sholat pada umumnya, orang yang menyalatkan harus beragama Islam (muslim), suci dari hadas dan najis, menutup aurat, serta menghadap kiblat.

Posisi Imam:

  • Jenazah Laki-laki: Imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah.

  • Jenazah Perempuan: Imam berdiri sejajar dengan pusar (lambung) jenazah.

Rukun Sholat Jenazah: Sholat dilakukan dengan posisi berdiri (bagi yang mampu) tanpa rukuk dan sujud, dengan rukun sebagai berikut:

  1. Niat.

  2. Takbir Pertama: Membaca Surat Al-Fatihah.

  3. Takbir Kedua: Membaca Sholawat Nabi.

  4. Takbir Ketiga: Mendoakan jenazah.

  5. Takbir Keempat: Membaca doa untuk jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.

  6. Salam.

3. Syarat dan Tata Cara Menguburkan Jenazah

Syarat Kedalaman Makam: Lubang kubur (liang lahat) harus digali minimal setinggi dada orang dewasa. Tujuannya adalah agar bau jenazah tidak tercium dari luar dan aman dari risiko digali oleh hewan buas.

Tata Cara Penguburan:

  1. Masukkan jenazah secara perlahan ke dalam liang lahat.

  2. Posisikan jenazah menghadap ke arah kiblat (dimiringkan ke kanan).

  3. Lepaskan semua tali pengikat kain kafan.

  4. Ganjal tubuh jenazah menggunakan bulatan-bulatan tanah yang telah disiapkan agar posisinya tidak bergeser.

  5. Tutup bagian atas jenazah di liang lahat menggunakan papan kayu.

  6. Timbun sisa lubang galian menggunakan tanah hingga tertutup rapat.

4. Panduan Penanganan Saat Sakaratul Maut dan Persiapan Jenazah

Sebagai tambahan, berikut adalah panduan menangani orang yang sedang menjemput ajal (sakaratul maut) dan penanganan awal setelah meninggal:

  • Pendampingan Sakaratul Maut: Bimbing dengan pelan dan lembut untuk mengucapkan kalimat tayibah. Ucapkan syahadat tauhid di telinga kanan dan syahadat rasul di telinga kirinya.

  • Melepas Pakaian: Jika jenazah masih mengenakan pakaian, lepaskan dengan hati-hati. Jika dirasa sulit, pakaian tersebut boleh digunting.

  • Membersihkan Tubuh (Persiapan Memandikan):

    • Membersihkan telinga: Cukup menggunakan jari kelingking, jangan menggunakan alat keras.

    • Membersihkan kuku: Jangan menggunakan benda tajam seperti lidi.

    • Mengeluarkan kotoran perut: Tekan perut bagian kiri secara perlahan sambil mengangkat kaki kanan, begitu pula sebaliknya, agar sisa kotoran di dalam perut lebih mudah keluar sebelum dimandikan.

 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!