Tanpa judul

Tangho's Journalist
0

     Story series Pitures

    Fanman presents

                                                                SMA FIGHT ONE

    Kejadian ini berawal saat aku pindah sekolah ke Kota Wijaya. Karena di sekitar tempat tinggalku tidak ada SMA yang dekat, jadinya aku disekolahkan jauh di kota bernama Wijaya ini. Hari ini adalah hari pertamaku berangkat sekolah. Aku bersekolah di SMA 2 Wijaya, dan kisahku dimulai dari sini.

Pagi pun tiba. Aku memulai hari ini dengan senyuman lebar dan perasaan gembira, berjalan menyusuri jalan perumahan sambil membawa tas seperti biasa. Di tengah jalan, aku berhenti melangkah. Baru kusadari... aku lupa jalan ke sekolah! Sumpah, ini baru hari pertama, bisa-bisanya malah lupa jalan. Aku mondar-mandir layaknya orang kebingungan. Kalau dilihat orang, mungkin aku lebih mirip orang gila, sih.

Setelah kelelahan mondar-mandir, aku akhirnya duduk mematung seperti anak hilang. Dalam hati aku panik, "Gimana ya? Aku harus cepat-cepat nih!" Kulihat layar HP, waktu sudah menunjukkan hampir jam 08:00. Waduh!

Setelah aku terdiam 10 menit lebih, tiba-tiba ada seorang siswa yang berlari ke arahku. Sesuai dugaanku, siswa tersebut memang berniat menghampiriku. Dia pun menyapa, "Hadeh, kamu lagi ngapain di sini, hmmm? Gue tebak, pasti kamu pengemis, ya?" tanyanya sambil tersenyum tengil.

"Heh, lu ngejek gue, ya?! Masa ada pengemis pakai seragam sekolah? Lu mikir apa coba!" balasku sambil memasang wajah jengkel.

"Santai, santai. Gue cuma bercanda, kok. Emangnya kamu ada masalah apa? Masa mau sekolah malah duduk-duduk di sini?" tanyanya lagi.

"Aku bingung jalan ke sekolah," jawabku pasrah.

"Hahaha, santai aja. Ada gue kok yang bisa bantu lu," sahutnya mantap.

Akhirnya aku bisa kembali tersenyum karena ada yang mau membantuku. Aku pun mengikutinya di sepanjang jalan. Tapi, semakin jauh kuikuti, rasanya jalan yang dilewati makin liar. Tunggu dulu, ini emang liar sih! Pasalnya, dia membawaku ke celah bangunan sempit, lalu tiba-tiba berhenti dan menghadapku.

"Eh, ayo cepat ikut! Soalnya ini agak sulit," katanya.

"Memangnya mau lewat mana?" tanyaku kebingungan.

Sambil tersenyum, dia langsung memamerkan triknya. Aku kaget melihat aksinya sampai tak bisa berkedip. Dia memanjat tembok sempit itu dengan lincah secara bertahap—ya, sebutannya parkour, sih. Dia berhasil melewatinya dengan mudah layaknya memanjat benteng. Aku yang jelas-jelas tidak bisa mengikutinya langsung protes.

"Heh, Bro! Gimana nih, gue kan nggak bisa!"

"Ya udah, nih pegang tangan gue."

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!