SMA WIJAYA FIGHT ONE eps 1 kejadian ini terjadi dari awal aku kesini

Tangho's Journalist
6



     Story series Pitures

by:setiyo firmansyah

cerita ini hanya lah fiksi jika ada nama yang berpas pasan itu hanya lah kebetulan atau memang terjadihikmah dari cerita ini adalah 

pertengkaran adalah pelajaran untuk saling memahami tujuan



    Fanman presents

                                                                AWALAN KEJADIAN INI

    Kejadian ini berawal saat aku pindah sekolah ke Kota Wijaya. Karena di sekitar tempat tinggalku tidak ada SMA yang dekat, jadinya aku disekolahkan jauh di kota bernama Wijaya ini. Hari ini adalah hari pertamaku berangkat sekolah. Aku bersekolah di SMA 2 Wijaya, dan kisahku dimulai dari sini.

Pagi pun tiba. Aku memulai hari ini dengan senyuman lebar dan perasaan gembira, berjalan menyusuri jalan perumahan sambil membawa tas seperti biasa. Di tengah jalan, aku berhenti melangkah. Baru kusadari... aku lupa jalan ke sekolah! Sumpah, ini baru hari pertama, bisa-bisanya malah lupa jalan. Aku mondar-mandir layaknya orang kebingungan. Kalau dilihat orang, mungkin aku lebih mirip orang gila, sih.

Setelah kelelahan mondar-mandir, aku akhirnya duduk mematung seperti anak hilang. Dalam hati aku panik, "Gimana ya? Aku harus cepat-cepat nih!" Kulihat layar HP, waktu sudah menunjukkan hampir jam 08:00. Waduh!

Setelah aku terdiam 10 menit lebih, tiba-tiba ada seorang siswa yang berlari ke arahku. Sesuai dugaanku, siswa tersebut memang berniat menghampiriku. Dia pun menyapa, "Hadeh, kamu lagi ngapain di sini, hmmm? Gue tebak, pasti kamu pengemis, ya?" tanyanya sambil tersenyum tengil.

"Heh, lu ngejek gue, ya?! Masa ada pengemis pakai seragam sekolah? Lu mikir apa coba!" balasku sambil memasang wajah jengkel.

"Santai, santai. Gue cuma bercanda, kok. Emangnya kamu ada masalah apa? Masa mau sekolah malah duduk-duduk di sini?" tanyanya lagi.

"Aku bingung jalan ke sekolah," jawabku pasrah.

"Hahaha, santai aja. Ada gue kok yang bisa bantu lu," sahutnya mantap.

Akhirnya aku bisa kembali tersenyum karena ada yang mau membantuku. Aku pun mengikutinya di sepanjang jalan. Tapi, semakin jauh kuikuti, rasanya jalan yang dilewati makin liar. Tunggu dulu, ini emang liar sih! Pasalnya, dia membawaku ke celah bangunan sempit, lalu tiba-tiba berhenti dan menghadapku.

"Eh, ayo cepat ikut! Soalnya ini agak sulit," katanya.

"Memangnya mau lewat mana?" tanyaku kebingungan.

Sambil tersenyum, dia langsung memamerkan triknya. Aku kaget melihat aksinya sampai tak bisa berkedip. Dia memanjat tembok sempit itu dengan lincah secara bertahap—ya, sebutannya parkour, sih. Dia berhasil melewatinya dengan mudah layaknya memanjat benteng. Aku yang jelas-jelas tidak bisa mengikutinya langsung protes.

"Heh, Bro! Gimana nih, gue kan nggak bisa!"

"Ya udah, nih pegang tangan gw''

Aku pun ditarik olehnya menuju ke atas gedung. Sesampainya di atas, aku bingung banget. Lagi pula, bukannya berangkat sekolah, ngapain malah ke atas gedung begini?

"Bro, kita ngapain di sini?" tanyaku dengan wajah kebingungan.

"Hahaha... lihat nih, ada pipa besar tau!" jawabnya.

Setelah kulihat, memang ada pipa dengan saluran yang mengarah ke bawah. Aku kaget, kenapa aku harus lewat pipa ini? Dengan kaki gemetar, aku perlahan melangkah maju.

"Udah, maju aja!" ucapnya sambil mendorong badanku.

Aku pun berseluncur di dalam pipa itu. Pandanganku terasa seperti sedang ditarik masuk ke dunia paralel. Kepalaku pusing melihat sekeliling yang berantakan. Tidak lama setelah itu, mataku menangkap seberkas cahaya di ujung lorong.

Bruk! Aku pun terlempar ke tanah. Aduh! Sakit banget. Baru awalan saja sudah terasa sakit, hadeh.

Setelah terjatuh, aku berusaha bangkit kembali dan menoleh ke belakang. Ternyata Ragil sudah menyusul meluncur di pipa tersebut. Saat keluar dari pipa, dia mendarat dengan gaya memutar badan. Aku sangat terkejut melihat tingkahnya yang seperti orang rada-rada gila. Hebatnya, ia bisa kembali ke posisi siap dengan sigap.

"Hahaha, gimana? Asyik, kan?" tanyanya.

"Asyik apanya! Punggung gue sakit nih!" keluhku sambil meringis kesakitan.

"Santai, santai. Gak usah alay lu," balasnya santai.

"Yuk, cepet ikut gue!"

Dia langsung berlari ke jalan raya. Anehnya, dia menyeberang tanpa melihat ada mobil atau tidak. Dia berlari begitu saja, menyeberang layaknya tidak berpikir kalau ada kendaraan lewat. Padahal, dia sudah bikin jalan raya macet karena membuat mobil-mobil berhenti mendadak. Jujur sih, aku malu banget ngikutin dia, tapi mau gimana lagi coba? Aku harus ikut supaya bisa sampai ke sekolah.

Singkat cerita, kami sampai di depan gerbang sekolah. Lelah banget sumpah ngikutin dia lewat rute yang kayak jalan maut! Kalau mau tahu jalannya, kami lewat gang sempit, saluran air, atap rumah orang, sampai numpang di atas atap mobil. Yaaa... begitulah, sangat absurd intinya.

Saat sampai di gerbang, ada satu hal yang bikin aku hampir menyerah: gerbangnya sudah tertutup rapat! Waduh, gimana nih kalau gak bisa masuk sekolah? Terus masuk lewat mana?

"Santai, santai. Gue punya cara kok," ucapnya menenangkan.

"Apa memangnya?" tanyaku.

Dia berlari ke samping sekolah. Saat aku mengikutinya... ya! Benar saja, dia memakai trik parkour-nya lagi. Memanfaatkan mobil yang terparkir di samping sekolah, dia menaiki mobil tersebut. Simpelnya, dia naik ke atap mobil, lalu memanjat ke pagar sekolah. Jadinya, dia bisa masuk ke area sekolah dengan mudah. Aku pun terpaksa mengikuti caranya. Yaaaaa... akhirnya bisa masuk! Mmmmm...

"Sssttt! Diem, nanti penjaga denger. Yuk, jangan sampai bersuara," bisiknya sambil menutup mulutku.

Kami pun mengendap-endap masuk ke lorong kelas. Saat masih di area taman, kami bergerak sangat cepat untuk menghindari pantauan penjaga gerbang. Soalnya, kalau ketahuan masuk lewat pagar, pasti langsung dihukum. Jadinya kami mengendap-endap seperti ninja yang menyusup ke dalam ruangan.

Wuuuuuh, berhasil! Akhirnya, dengan punggung yang sudah berbunyi "kretek", kami sampai juga di tempat aman. Di saat aku merasa lega karena sudah masuk sekolah, aku baru kepikiran untuk menanyakan namanya.

"Oh iya, ngomong-ngomong namamu siapa?"

"Iya juga ya, kita belum kenalan sejak pertama kali bertemu. Yaudah, namaku Ragil Junia Aziz, panggil saja aku Ragil," jawab anak laki-laki itu.

"Baik, Ragil. Namaku Andra Windaya Surya," balasku.

Kami berdua pun tertawa karena baru sempat berkenalan meski sudah melewati banyak hal gila bersama.

"Ngomong-ngomong, kelas lu di mana?" tanyaku.

"Kelas gue di... oh, itu dia!" jawab Ragil sambil menunjuk papan bertuliskan [Classroom 10.4].

"Wah gila, gue juga di situ kelasnya!" seruku terkejut.

"Beneran? Hahaha... pas-pasan banget kita bisa sekelas ya," sahut Ragil.

"Hahaha iya. Ngomong-ngomong, terima kasih ya udah bantu gue berangkat ke sekolah," ucapku.

"Iya, sama-sama santai aja. Lagian seneng juga ada orang telat selain gue," jawabnya.

"Hahaha iya, gue baru hari pertama aja udah telat," balasku sambil tertawa.

Kami pun masuk ke kelas bersama. Rupanya guru belum datang. Kami sangat lega karena mengira bakal telat di saat pelajaran sudah dimulai, tapi karena kelas masih kosong dari guru, kami aman. Kami pun duduk di bangku yang sama. Tidak lama setelah kami duduk, seorang guru masuk ke kelas dengan wajah yang masih tampak mengantuk.

"Pagi, anak-anak. Maaf Bapak telat masuk karena ada kepentingan," sapa guru itu sambil tersenyum.

"Hahaha... Bapak habis ada kepentingan dari alam mimpi, ya?" celetuk Ragil.

"Kamu tahu dari mana, Gil, kalau Bapak habis tidur?" tanya guru itu keheranan.

"Ya tahulah, Pak. Soalnya pas saya berangkat sekolah tadi, saya lihat Bapak masih tidur di kamar. Kelihatan dari jendela, Pak," jawab Ragil cengengesan.

"Ragil, Ragil... kamu orangnya tukang ngintip ya?" tegur guru tersebut dengan wajah sedikit jengkel.

"Santai, santai... saya hanya bercanda kok, Pak. Habisnya rumah Bapak bagus sih," elak Ragil.

"Sudah, sudah. Oke anak-anak, kita mulai perkenalan dulu, ya," ucap Pak Guru.

"Pak, kenapa tidak mulai dari Bapak saja?" potong Ragil dengan wajah meledek.

"Kamu nantangin ya, Gil?" balas Pak Guru yang makin kesal.

"Hihihi... soalnya Pak Guru orangnya asyik sih," jawab Ragil tanpa dosa.

"Oke, Bapak mulai duluan ya. Nama Bapak adalah Mathias, atau bisa dipanggil Pak Mamat," perkenal guru bernama Mathias itu.

Semua siswa di kelas pun bergantian memperkenalkan dirinya. Ada yang bernama Erpan Sarjana, ada si rada-rada gila bernama Ragil, ada yang sangat aktif seperti Zifa, lalu ada Farinzo, Atif Riski Pratama, dan masih banyak lagi. Teman-temanku di kelas sungguh beragam. Kami pun menjadi teman baik, dan semoga saja ke depannya semua akan baik-baik saja.


Posting Komentar

6 Komentar

  1. widih bagus bet dah moga moga kedepamya semakin bagus yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. farinzo julian sucipto15 Mei 2026, 15.58.00

      itu kisah gw bjir masuk artikel pondok pasti yang ngetik temen gw kalo gak salah orang yang pernah bantugw yaitu setiyo firmansyah hmmm coba gw tanyadeh cerita ini lumayan llah bagus sip

      Hapus
    2. walawe lu tmn gw atau giman nih

      Hapus
  2. wahhhhh ini sih pacar gw yang nulisnih hmmm coba gw tanya

    BalasHapus
  3. ragil junia aziz15 Mei 2026, 16.04.00

    kayaknya dia deh orang hitam yang namanya firman hahaha

    BalasHapus
Posting Komentar

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!