Angin pagi berembus melewati diriku. Suara desing kendaraan bersahutan di sebelah kiri, sementara di sisi kanan sudah berdiri kokoh sebuah gerbang bertuliskan SMP 2 JAKARTA. Aku melangkah masuk ke area sekolah, melihat para siswa dan siswi berjalan searah memenuhi pandanganku. Akhirnya, aku sampai di kelas dan langsung duduk di bangku pojok kiri paling belakang, bergabung dengan teman-temanku.
"Tumben baru berangkat, Ka?" tanya Rahmat tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya.
"Kayaknya lu yang terlalu gasik, Mat," sahutku sembari meletakkan tas.
"Ya iyalah, gue harus menjaga martabat keluarga gue."
"Oh ya, Rina mana?"
"Ya lu tahu Rina kayak gimana, kan?" jawab Rahmat.
"Ya iya, sih."
Bel masuk pun berbunyi. Rina baru menampakkan batang hidungnya saat jam pelajaran sudah dimulai, tapi sudahlah, dia memang selalu begitu.
Sekolah pun usai. Kami bertiga pulang ke rumah masing-masing setelah sepakat untuk nongkrong di kafe nanti malam pukul delapan.
Malam harinya, aku bersiap pergi ke kafe yang sudah kami janjikan. Kusiapkan motor Beat-ku dan mulai melaju membelah jalanan. Sepinya kondisi jalan malam itu membuatku berkendara dengan lebih berhati-hati. Namun, perlahan aku mulai merasakan ada yang mengikutiku dari belakang.
Perasaanku benar. Dua sorot lampu motor menyorot tajam dari arah belakang, terpantul di kaca spion kiriku. Biar kutebak, pasti anak SMP 1. Dasar tidak tahu malu! Kenapa sih rata-rata anak SMP 1 itu selalu iri dengan sekolahku, padahal sekolah mereka lebih bagus.
Mereka semakin mendekat. Kulihat ada dua motor. Motor pertama ditumpangi dua orang; yang di depan memakai helm, sementara yang dibonceng membawa celurit yang kira-kira panjangnya mencapai dua meter. Motor di sampingnya juga berboncengan, dengan pembonceng yang bertelanjang dada.
Jantungku berdebar kencang. Aku segera menarik gas dalam-dalam untuk mempercepat laju, tapi sayangnya motor matikku kalah cepat dengan motor mereka. Mereka terus memangkas jarak dan berhasil menyusulku. Kini, posisi mereka sudah persis menempel di belakangku.
Apa yang harus kulakukan? Ayolah, pikirkan sebuah cara! Kau sudah biasa menghadapi situasi seperti ini!
ALAMAK!
Satu celurit melayang cepat dari arah kiri, mengincar leherku. Refleks, aku menunduk dan menangkap senjata tajam itu dengan tangan kiri. Dalam satu gerakan cepat, aku menendang ban depan motor penyerang di sebelah kiri hingga kendaraan itu oleng dan tersungkur. Meski berhasil melucuti senjata tersebut, telapak tanganku tersayat dan mulai meneteskan darah.
Belum sempat menarik napas, satu celurit lain datang dari arah kanan. Aku mencoba menangkisnya dengan celurit yang baru kudapat, namun karena peganganku yang tidak erat, senjata musuh terus meluncur—hampir mengenaimu. Sambil menahan serangan itu, aku melemparkan celuritku ke arah pengemudi motor di kanan, lalu kembali menendang ban depannya hingga ia terjatuh.
"Dasar pengganggu," gerutuku kesal. "Mau menikmati malam minggu saja susah sekali."
Pukul sembilan malam, aku tiba di kafe. Kulihat Rina dan Rahmat sudah duduk menunggu di dalam. Sebelum bergabung, aku mampir ke wastafel dekat pintu untuk mencuci luka di tanganku. Setelah membalutnya seadanya, aku melangkah masuk dan duduk di kursi yang telah mereka pesan.
"Lama banget, sih!" seru Rina.
"Iya, biasanya kamu nggak pernah telat begini," sahut Rahmat.
"Oh, tadi ada sedikit masalah di jalan," jawabku santai.
"Masalah apa, Ka?" tanya Rina penasaran.
"Iya, Arka, memangnya ada apa?" Rahmat menimpali.
Aku hanya menyodorkan telapak tanganku yang terluka. "Lihat ini."
"Lah, kok kegores gitu? Habis gelut? Kenapa nggak ngajak-ngajak?!" tanya Rina dengan nada tinggi.
"Biar kutebak, pasti anak-anak SMP 1, kan?" celetuk Rahmat.
"Ya iyalah. Padahal masalahnya sudah selesai sejak lama, malah sekarang ngajak rematch," jawabku jengkel.
"Memangnya apa sih yang mereka inginkan?" tanya Rina.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku hanya tahu-tahu diserang begitu saja."
Rina mengernyitkan dahi, "Tapi, kok kamu yakin banget itu anak-anak SMP 1?"
"Kamu masih ingat kan, Rin? Outfit khas yang mereka pakai kalau lagi konvoi motor?"
"Oh, iya juga ya," jawab Rina tersadar.
"Sudahlah, daripada memikirkan mereka, lebih baik kita bahas hal lain saja," usulku.
"Nah, benar kata Arka," tambah Arkasetuju.
Akhirnya, kami larut dalam obrolan seru tentang hal-hal random hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam. Kami memutuskan untuk pulang dengan motor masing-masing. Awalnya, kami berkendara beriringan karena jalanan searah. Namun, tepat sebelum mencapai pertigaan yang akan memisahkan arah jalan kami, sekelompok pemotor yang membawa senjata tajam tiba-tiba muncul dan menghadang langkah kami bertiga.
Akhirnya, kami larut dalam obrolan seru tentang hal-hal acak hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam. Kami memutuskan untuk pulang dengan motor masing-masing. Awalnya, kami berkendara beriringan karena jalanan searah. Namun, tepat sebelum mencapai pertigaan yang akan memisahkan arah jalan kami, sekelompok pemotor yang membawa senjata tajam tiba-tiba muncul dan menghadang langkah kami bertiga.
"Siapa kalian?! Apa yang kalian mau?!" seruku.
"Woy, Arka, nggak usah lu tanya juga lu udah tahu siapa yang ngepung kita. Iya, kan, Mat?" sahut Rina santai.
"Bener lu, Rin. Sayang banget gue lagi nggak bawa tongkat bisbol," timpal Rahmat.
"WOY!!! Kalian bertiga udah siap mampus?!" bentak si pemimpin kelompok.
"Lu pasti Reza, kan? Wakil ketuanya Soni," tebakku.
"Ternyata lu masih ingat gue ya, setelah pertempuran besar-besaran waktu itu," desisnya.
"Gue ingat lu karena sering lihat lu ikut lomba tapi kalah terus," ejekku.
"BANGSAT!!! HABISI MEREKA SEMUA!" teriak Reza murka.
Kami bertiga pun bertarung melawan komplotan itu dengan kemampuan kami masing-masing. Tiga lawan sepuluh? Sepertinya ini akan mudah.
Pukulan demi pukulan kulancarkan, diselingi tangkisan dan hindaran yang presisi. Rahmat bertarung dengan kekuatan fisiknya yang brutal, menumbangkan lawan satu per satu. Rina, seperti biasa, bergerak dengan sangat cepat dan gesit hingga membuat musuh kebingungan. Sementara aku mengandalkan kemampuanku melucuti senjata lawan dan menggunakannya, sebuah keahlian yang membuatku mendapat julukan "Si Adaptor".
Hanya butuh waktu lima menit hingga pertarungan selesai. Tak ada satu pun tetes keringat yang membasahi kening kami. Namun, baru saja kami hendak kembali ke motor, raungan mesin kembali terdengar. Sekelompok pemotor lain datang menyusul, kali ini dengan jumlah yang jauh lebih banyak.
Sepertinya, ini akan benar-benar menjadi malam yang panjang.
Bersambung...
.png)