IRI Episode 3 : Jebakan yang menyebalkan

Tangho's Journalist
0

     

   


     Reza melakukan tebasan memutar ke sisi kananku, tetapi berhasil kutangkis dengan tangan kanan. Dia kembali menyerang dari arah kiri, dan lagi-lagi kutahan menggunakan tangan yang sama. Dengan cepat, kujepit parang Reza di bawah ketiakku. Aku berputar membelakanginya, berniat menyikut kepalanya dengan tangan kiriku. Sialnya, dia lebih dulu menjepit tangan kiriku dengan tangan kirinya. Tanpa pikir panjang, kubanting tubuh Reza ke belakang. Aku berbalik, menginjak tangan kanannya, merampas pisaunya, lalu membuangnya sejauh mungkin.

    Tiba-tiba, Reza menarik kedua kakinya dan menendang dadaku dengan keras hingga aku sedikit terpental ke belakang. Belum sempat aku memulihkan keseimbangan, Reza mengayunkan parangnya ke arahku. Aku menahannya sekuat tenaga dengan kedua tangan. Dia terus menambah tekanan untuk melanjutkan tebasannya, tetapi justru ini menjadi celah bagiku. Kuarahkan parang itu ke bawah dengan dorongan penuh, membuatnya tertancap kuat ke tanah. Reza terkejut karena tubuhnya ikut tertarik ke bawah. Memanfaatkan momen itu, aku langsung menghantamkan dengkulku ke kepalanya hingga ia terhuyung. Tanpa memberi ampun, kutendang dadanya dan kusudahi dengan tendangan Question Mark Kick. Reza terpental ke kiri. Aku kembali memasang kuda-kuda, mengejek dan menunjukkan kepadanya bahwa aku akan tetap menang.

    Aku melayangkan pukulan tangan kanan ke sisi kiri kepalanya, tetapi berhasil ditangkis oleh tangan kiri Reza. Ia membalas dengan pukulan tangan kanan ke arah kepalaku. Dengan sigap, kutangkap tangannya menggunakan tangan kiriku. Aku memutar tubuh ke belakangnya, menyilangkan kaki kananku di depan kaki kirinya, lalu mendorong tubuhku ke belakang sementara kakiku menjegal. Reza kehilangan keseimbangan dan terbanting keras hingga wajahnya mencium aspal. Aku membalikkan badannya dan menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi ke arah kepala hingga ia tak sadarkan diri.

    Merasa menang, aku berdiri dan mulai berjalan meninggalkannya. Namun, tiba-tiba sepasang lengan memeluk perutku dari belakang. Sebuah kuncian! Dia mengangkat tubuhku dan membantingku dengan teknik German Suplex. Kepalaku terbentur keras. Pandanganku seketika mengabur dan rasa pusing mendera. Ternyata Reza belum habis. Saat dia melepaskan kunciannya di tanah, aku memaksakan diri untuk berdiri. Kondisi kami berdua sama-sama sudah sekarat. Kulancarkan pukulan ke wajahnya, dan ia pun membalas memukul wajahku. Dalam sisa-sisa kesadaran, kukerahkan seluruh tenaga terakhirku untuk melakukan Uppercut tepat ke dagunya. Reza akhirnya benar-benar tumbang dan pingsan. Aku membiarkan mereka semua tergeletak di sana, lalu berjalan pulang dengan kepala yang berdenyut hebat dan pandangan buram.

    Sesampainya di rumah, aku langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Namun tiba-tiba, dari balik tembok sebuah tongkat bisbol mengayun deras ke arahku. Aku refleks melompat mundur untuk menghindar. Niat hati ingin langsung melawan, tetapi pandanganku yang masih kabur sangat menyulitkan. Rasa pusing ini tidak seberapa, tetapi penglihatan yang buram memaksaku untuk bermain aman sampai aku pulih.

    Aku terus mundur dan menghindari serangannya hingga tersudut kembali ke arah pintu depan. Perlahan, penglihatanku mulai fokus. Saat dia kembali mengayunkan tongkatnya, aku berhasil menangkis dan merebutnya. Kuarahkan tongkat itu ke bawah, lalu kuhantam kepala pria berbandana hitam itu dengan lututku berkali-kali. Selanjutnya, kuselipkan kaki kananku ke belakang kakinya, sementara tangan kananku mencekik lehernya. Kubanting tubuhnya ke lantai berulang kali hingga pingsan, lalu kuseret dan kugeletakkan di luar rumah.

"Kalau konsepnya begini, pasti masih ada orang lain di dalam rumah, kan?" gumamku dalam hati.

    Aku tidak akan tahu jika tidak mengeceknya sendiri. Singkatnya, rumahku sudah disusupi oleh komplotan mereka. Sepertinya besok di sekolah aku harus meminta bantuan Agus untuk memeriksa rumah ini, berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang berbahaya. Baiklah, mari kita lakukan pembersihan rumah malam ini.

    Satu per satu penyusup di dalam rumah kukalahkan dan kuseret keluar. Hampir semuanya kuselesaikan dengan cepat karena rasa kantuk sudah tak tertahankan. Akhirnya, seluruh sudut rumah selesai kuperiksa. Harusnya tidak ada lagi yang bersembunyi. Total ada sekitar 10 orang yang kutumbangkan di dalam rumah.

    Kulirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 pagi. Wow, berarti aku baru saja membereskan total 25 orang hanya dalam waktu satu jam. Lebih baik sekarang aku mengunci pintu dan memeriksa sekilas semua jendela, lalu lanjut tidur di kasur. Jam 07:00 pagi nanti aku sudah harus berangkat ke sekolah. Semoga saja aku tidak bangun kesiangan karena kejadian gila ini.

    Aku pun terlelap dengan nyenyak malam itu. Saat mataku kembali terbuka, pandanganku langsung tertuju pada jam dinding. Pukul 07:30.

    Tunggu sebentar... 07:30?!?!

    Bersambung...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!