episode 2 masalah sebenar nya

Tangho's Journalist
0

  EPISODE 2 ; MASLAH Sebenearnya


Pagi pun tiba, aku pun terbangun dari dunia fantasi. Seperti biasa, aku melakukan rutinitasku, dimulai dari berjalan bersama Ragil masuk ke kelas.

Saat duduk di bangku, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Dua orang yang kulihat adalah Farinzo dan Rohma. Otakku pun mulai bertanya-tanya, 'Hmm, tuh dua orang dari kemarin deket terus layaknya sepasang sandal yang tak terpisahkan.' Aku berpikir begitu karena curiga mereka sedang bucin atau semacamnya, mengingat kedekatan mereka sebagai laki-laki dan perempuan.

Karena penasaran dan bingung, akhirnya aku bertanya kepada Ragil, "Eh Gil, mereka berdua deket terus emangnya ada hubungan apa, sih?" tanyaku.

"Oh, mereka berdua dari SMP itu sahabatan, Ndra. Memangnya kenapa nanya gitu? Kamu cemburu, ya?" goda Ragil.

"Nggaklah! Buat apa aku bucin-bucinan kayak gitu? Lagipula masih terlalu cepat buat ngelakuin hal macam itu. Aku kan cuma bingung kenapa mereka deket terus," jawabku agak jengkel.

Jam pelajaran pun berlalu. Setelah bel berbunyi, sudah waktunya untuk pulang. Namun, saat aku mencoba melangkah keluar dari pintu kelas, tiba-tiba ada yang memanggilku.

"Heh, lu jangan pulang dulu! Coba lihat jadwal piket," tegur Atif sambil menunjuk ke arah papan jadwal.

Hadeh, padahal aku ingin cepat-cepat pulang karena sudah lelah banget. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Aku kerjakan saja. Hari ini aku mendapat jadwal piket bersama Rohma, si perempuan pemalu itu. Jadi, kami pun piket berdua.

Saat aku sedang menyapu, Rohma tiba-tiba berbicara kepadaku. "Ndra, aku mau pulang duluan, ya. Soalnya aku mau pulang cepat, ada urusan," pamit Rohma dengan suara pelan.

"Iya, iya, nggak apa-apa kok kalau aku piket sendiri," jawabku dengan ikhlas.

"Terima kasih ya, Ndra. Maaf banget lho," ucapnya sambil melambaikan tangan lalu bergegas pergi.

Jadilah aku piket sendirian di kelas. Setelah tugasku selesai, aku merasa sangat lega dan langsung mengambil tasku untuk pulang. Di lorong sekolah, aku berjalan sendirian. Sambil menatap ke luar jendela, mataku tertuju pada petugas kebersihan sekolah yang sedang mengerjakan tugasnya.

Melihat mereka bekerja, aku hanya bisa bergumam dalam hati, "Memangnya nggak capek ya, piket membersihkan seluruh sekolah?" Meski mereka dibayar, aku tetap merasa lelah hanya dengan membayangkannya. Piket kelas saja sudah membuatku kewalahan, apalagi kalau harus membersihkan seluruh area sekolah. Bisa-bisa tulangku remuk semua.

Yang lebih membuatku terkejut adalah jadwal kerjanya. Hari ini saja aku baru bisa pulang pukul empat sore. Padahal, seharusnya aku sudah bisa pulang sejak pukul dua siang. Rasanya benar-benar melelahkan, tapi ya sudahlah, aku hanya bisa bersabar.

Akupun melanjutkan perjalanan pulang. Biasanya aku lewat jalan utama, tapi kali ini jalan itu ditutup dengan garis pembatas. Terpaksa, aku mengambil jalan memutar melewati kawasan perumahan. Di tengah perjalanan, aku melihat kerumunan warga. Karena penasaran, aku mencoba menerobos kerumunan itu.

Begitu berhasil masuk, jantungku seolah berhenti. Di sana, kulihat Rohma sedang digotong masuk ke dalam ambulans. Aku segera berlari mendekati petugas medis.

"Pak, permisi! Saya teman korban. Boleh saya tahu apa yang terjadi?" tanyaku dengan napas terengah.

Petugas itu menatapku sekilas. "Saya tidak tahu persis kejadiannya, tapi korban mengalami cedera cukup parah di bagian kepala yang harus segera dijahit. Sepertinya dia dipukul dengan benda keras."

"Oh, baik, Pak. Terima kasih infonya," jawabku lemas.

Aku pamit dan melanjutkan perjalanan dengan perasaan campur aduk. Sesampainya di kos, aku menyusuri lorong menuju kamarku. Namun, baru beberapa langkah, seseorang memanggil namaku.

"Hei, Andra! Baru selesai piket, nih?"

Aku menoleh. Ternyata yang memanggil adalah Ragil.Mendengar hal itu, aku langsung menjawab, "Hah? Gil, kamu lagi ngeledek atau bertanya sih?" tanyaku dengan nada jengkel.

"Hahaha... santai, santai, cuma bercanda kok. Selamat malam ya, Ndra," jawabnya santai sambil menutup jendela.

Aku menghela napas panjang dan kembali memutar knop pintu, melangkah masuk ke dalam kamar asramaku. Hah, hari yang sangat melelahkan. Untung saja aku hanya mendapat jadwal piket satu kali dalam seminggu. Aku langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur. Namun, saat sedang menatap langit-langit kamar, pikiranku tiba-tiba melayang pada Rohma.

Karena penasaran dan khawatir, aku segera mengambil HP dan mengetik pesan di grup kelas.

"Teman-teman, aku dapat info buruk. Rohma dilarikan ke rumah sakit karena cedera di bagian kepalanya."

Grup kelas yang awalnya sepi mendadak heboh. Semua kaget membaca pesanku, tak terkecuali Farinzo, sahabat dekat Rohma.

"Hah? Yang benar saja, Ndra! Bagaimana bisa? Kamu tahu dari mana?" balas Farinzo dengan huruf kapital semua, kentara sekali kalau ia sedang panik.

"Waktu aku jalan pulang tadi, aku kebetulan melihat dia sedang diangkat oleh petugas ambulans," balasku.

Kepanikan menyebar di grup. Semua orang bertanya-tanya, siapa yang tega menyakiti Rohma? Anak itu dikenal sangat pemalu dan baik hati kepada siapa saja. Tidak masuk akal jika ada yang ingin mencelakainya. Akhirnya, kami sepakat untuk melihat langsung keadaannya.

"Oke, sebagai teman sekelas, besok sepulang sekolah kita jenguk Rohma di rumah sakit, ya," putusku.

Semuanya setuju, terutama Farinzo yang paling cemas. Setelah jadwal menjenguk dipastikan, aku meletakkan HP-ku dan memejamkan mata, membiarkan rasa kantuk mengambil alih.

Keesokan harinya...

Sesuai rencana, sepulang sekolah kami beramai-ramai menuju rumah sakit. Begitu diizinkan masuk ke ruang rawat, kami langsung mengelilingi ranjang Rohma. Wajahnya terlihat pucat dengan perban melingkar di kepalanya.

"Rohma, sebenarnya kemarin ada apa? Kenapa kamu bisa sampai begini?" tanya Anya dengan nada khawatir.

Rohma terdiam sejenak sebelum bercerita dengan suara pelan. "Emm... ceritanya begini. Kemarin sehabis piket, aku langsung pulang. Tapi anehnya, jalan pintas yang biasa aku lewati tiba-tiba ditutup. Akhirnya aku terpaksa memutar lewat jalan perumahan yang lumayan sepi."

Kami semua menyimak ceritanya dengan tegang.

"Baru sebentar aku berjalan di sana, tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh... tahu-tahu aku langsung dipukul keras dengan sebuah benda. Aku tidak sempat melihat siapa orangnya atau benda apa yang dia pakai. Setelah itu pandanganku gelap dan aku pingsan di jalan. Cuma itu yang aku ingat," tutup Rohma sambil meringis.

Suasana ruangan mendadak hening. Kami saling berpandangan, mencerna kejadian mengerikan yang baru saja diceritakan Rohma. Namun, di tengah ketegangan itu, terdengar bunyi ting! dari saku seragam Anya.

Ada pesan masuk di HP-nya. Anya membuka pesan tersebut, dan matanya seketika membelalak. Pesan itu dikirim oleh nomor tidak dikenal, berisi sebuah foto—foto yang menunjukkan sosok Farinzo sedang berjalan pulang lebih awal membawa sebatang tongkat bisbol, meninggalkan Rohma sendirian.

Anya terkaget-kaget melihat foto tersebut. Tak lama, masuk pesan lain dari temannya yang bertanya, "Anya, ini pelakunya gak sih?"

Anya pun membalas cepat, "Kayaknya iya, deh."

Pikiran Anya berkecamuk. Benar juga, batinnya. Dari tadi, satu-satunya orang yang belum hadir di tempat ini adalah Farinzo. Padahal, seharusnya dia adalah orang yang paling wajib datang. Ke mana anak itu?

Tanpa pikir panjang, Anya segera menyebarkan informasi tersebut. Dalam sekejap, teman-teman sekelas mulai mencurigai Farinzo sebagai pelakunya. Anya lantas bergegas menghampiri Rohma untuk memberitahunya.

"Rohma, coba lihat ini. Kamu harus tahu," ucap Anya seraya menunjukkan foto di layar HP-nya.

"Ini... Farinzo, kan?" tanya Rohma dengan suara bergetar.

"Roh, cobalah untuk percaya. Ini bukti nyata, kamu harus merespons ini," desak Anya.

"Nggak... nggak. Nggak mungkin," gumam Rohma, tampak kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa.

"Roh, aku paham perasaanmu. Tapi lihat, apa yang kamu lihat ini asli. Cobalah untuk realistis," bujuk Anya meyakinkan.

Tak lama setelah itu, Farinzo tiba. Ia berlari masuk dengan napas terengah-engah dan wajah kelelahan.

"Eh, teman-teman. Gue telat, ya? Maaf, gue habis ikut ekskul," ucapnya ringan.

Atif yang sedari tadi menahan emosi langsung maju dan mendorong tubuh Farinzo dengan kasar.

"Heh! Lu nggak punya malu atau gimana, ya?!" bentak Atif penuh amarah.

"Hah? Maksud lu apa, Tif?" tanya Farinzo kebingungan.

"Lu memang nggak punya malu! Lu lihat sahabat lu sendiri? Tega lu mukul teman baik lu sendiri, hah?!" hardik Atif.

"Eh, Tif! Maksud lu apa nuduh-nuduh gue begini, hah?!" Farinzo mulai terpancing emosi.

"Apa? Lu pikir gue nggak punya bukti? Lihat nih!" jawab Atif seraya menyodorkan foto di HP Anya tepat di depan wajah Farinzo.

Suasana seketika hening. Semua mata menatap sinis ke arah Farinzo. Namun, saat melihat foto dirinya sendiri di layar itu, wajah Farinzo justru pucat pasi. Ia menggeleng keras.

"Nggak... nggak! Ini bukan gue! Sumpah!" bantah Farinzo panik.

"Apa? Bukan lu? Coba lu tanya langsung ke Rohma! Lagipula, jelas-jelas cuma lu doang yang ikut ekskul bisbol di sini, kan?!" cecar Atif.

Farinzo menatap gadis yang sedang terduduk lemas itu. "Rohma... itu bukan aku. Tolong, percaya sama aku," mohon Farinzo dengan suara gemetar.

Rohma hanya bisa menunduk diam. Air matanya menetes perlahan. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Zo, lihat apa yang udah lu lakuin ke dia! Mending lu keluar dari sini sekarang! Nggak usah deket-deket lagi sama kita!" usir Atif tanpa ampun

Farinzo hanya bisa diam lalu berlari meninggalkan ruangan. Aku yang melihatnya, jujur, merasa agak kasihan. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah ada buktinya?

Aku pun kembali ke kos-kosan bersama Ragil. Sepanjang jalan, aku masih terus memikirkan masalah Farinzo. Masalah tadi sukses membuatku pusing, jadinya aku memutuskan untuk bertanya kepada Ragil.

"Ragil, kamu percaya kalau Farinzo pelakunya?" tanyaku.

"Emmm... mau bagaimana, ya? Kalau sudah ada bukti, ya sudah jelas dia pelakunya," jawab Ragil.

Karena masih penasaran, aku kembali bertanya, "Kira-kira dia ada di mana ya, Gil?"

"Kayaknya dia ada di lapangan bisbol seperti biasa," tebak Ragil.

Mendengar jawaban itu, aku langsung menghentikan langkahku, berbalik arah, dan berlari meninggalkannya.

"Eh, Ndra! Kamu mau ke mana?" seru Ragil.

"Aku mau pergi sebentar, kamu duluan aja, ya!" jawabku sambil terus berlari.

Aku berlari sekencang mungkin untuk mencari Farinzo. Di jalan, aku menggunakan trik parkur yang diajarkan Ragil sehingga aku bisa memotong rute dengan lebih mudah. Setelah cukup lama berlari, akhirnya aku menemukannya. Dia sedang duduk di bangku taman, tepat di depan lapangan bisbol. Dengan perlahan, aku menghampirinya.

"Emm... Zo, kamu baik-baik saja?" tanyaku.

Dia tidak menjawab apa-apa dan hanya menghembuskan napas panjang.

"Zo, aku mau nanya. Benarkah kamu pelakunya?" tanyaku dengan lembut.

"Hah... kamu mau nanya apa mau menginterogasi gue?" balasnya dengan nada pasrah.

"Nggak kok, sumpah! Kalau lu punya masalah karena difitnah, aku bisa bantu," ucapku meyakinkan.

"Percuma, Ndra. Semua orang sudah nggak percaya gue lagi. Aku hanya bisa menerimanya saja. Tapi aku sungguh bukan pelakunya, Ndra, sumpah!" keluh Farinzo. Kepalanya menunduk dan kedua tangannya mengepal erat.

"Tapi, kenapa foto tersebut menunjukkan kamu meninggalkan Rohma? Seharusnya kamu menolongnya, kan?" tanyaku lagi.

"Iya, saat itu aku mau pulang setelah ekskul. Aku berlari secepat mungkin, tapi aku nggak sempat lihat kalau orang yang kulewati itu adalah Rohma. Padahal aku sama sekali nggak ada niat memukul, aku murni cuma lewat doang!" jelas Farinzo.

Kami berdua terdiam, bingung mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini, apalagi ada orang yang sengaja mengambil foto kejadian tersebut. Tidak lama setelah itu, datang seorang perempuan menghampiri kami dan menyapa dengan ceria.

"Hai! Kalian ngapain sore-sore duduk di sini? Udah mau gelap, lho!" tegur perempuan tersebut.

"Oh, kami cuma sedang ngobrol kok," jawabku.

"Hemmm... yakin cuma ngobrol, atau lagi punya masalah?" tanyanya dengan senyuman yang sedikit mencurigakan.

"Lah, kamu tahu dari mana kalau aku punya masalah?" sahut Farinzo heran.

"Ya tahulah. Tadi saat aku berjalan di lorong rumah sakit, aku dengar kalian ribut di ruang pasien. Terus aku lihat kamu berlari meninggalkan ruangan. Jadinya aku berpikir kalau kamu habis dituduh mencelakai orang, kan?"

"Iya, tapi aku difitnah, sumpah!" seru Farinzo membela diri.

"Emm... aku bisa bantu, tapi ada syaratnya," tawar perempuan itu.

"Syaratnya apa?"

"Begini ceritanya, aku punya kakak yang menaruh dendam kepada seseorang. Karena itu, dia ikut-ikutan semacam perkumpulan orang-orang pendendam dan jadi sibuk terus. Padahal, dulu dia sering banget main sama aku. Tapi sekarang, aku merasa jauh banget dari dia sejak dia ikut perkumpulan itu. Jadi, syaratnya adalah kalian harus membantuku agar kakakku tidak punya dendam lagi," jelasnya panjang lebar.

"Baiklah, kami akan bantu kamu. Tapi kamu beneran bakal bantu aku juga, kan?" tanya Farinzo memastikan.

"Iya, jelaslah! Masa nggak," jawab perempuan tersebut dengan senang hati.

Kesepakatan pun dibuat agar kami bisa saling membantu menyelesaikan masalah masing-masing. Namun, tiba-tiba aku tersadar akan satu hal yang sedari tadi terlewatkan.

"Oh iya, kita kan sudah bekerja sama, jadi kami harus tahu namamu dong," ujarku.

"Oh iya, oke. Namaku Olivia Fera. Panggil saja aku Olivia," jawabnya ramah.

Kami pun senang bisa berkenalan dengannya. Meski belum saling mengenal lama dan memiliki latar belakang yang berbeda, kami siap untuk saling bekerja sama karena kami memiliki satu tujuan yang sama: menyelesaikan masalah kami.

lanjt eps 3

penulis:setiyo firmansyah

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!